Posts

Showing posts from 2018

Deal it and survive LDR

Halo, jumpa lagi nih di blog iniiii. Sesuai judul diatas, aku mau ngulas sedikit tentang Long Distance Relationship. Untuk kalian yang dalam situasi ini ataupun bentar lagi akan merasakan LDR, mungkin ini bisa jadi refrensi kecil untuk kita semua. Yap, LDR. Satu kata yang sepertinya mengecam dan menakutkan bagi beberapa orang. Bagaimana tidak, kata ini mencerminkan sebuah hubungan yang berlandasakan jauhnya jarak dan tidak bertemu dalam jangka waktu yang cukup lama. Kejam ya jarak dan waktu? Tapiiii kembali lagi mereka lah yang mengajarkan kita bagaimana berharganya pertemuan.  So, bagaimana cara untuk face LDR dan SURVIVE? Sebenarnya ini menantang loh, jadi siapapun kalian yang bisa menjalani hubungan ini, you’re the best one! kalian orang terhebat pastinya, ini reward untuk kalian. Dan untuk kalian yang baru akan memulai, ini sedikit cara deal it dan survive LDR. Pertama, yakinkan diri kalian dan pasangan untuk menjalani hubungan LDR. Jadi, jika memang saatnya...

Rasa takut kehilangan yg berlebihan?

Image
Terkadang, di dalam sebuah hubungan, terbesit beberapa kalimat seperti.. "Mengapa rasa takut kehilangan terus menghampiri? Mengapa rasa posesif nampaknya berlebihan hadir, disaat satu pihak terlihat biasa saja? Mengapa di satu sisi, kita tidak bisa mengendalikan rasa ego dan mementingkan perasaan kita saja?" Selalu marah dengan hal kecil, selalu takut jika ia pergi bahkan berpaling. Ketakutan yg berlebihan. Ya, wajar. Sangat wajar. Dulu, mungkin kita pernah merasakan sakit hati ditinggal seseorang, trauma yg membekas itu membuat kita tidak mau mengulangi kesalahan sehingga menjaga benar2 apa yg dimiliki sekarang. Hal tersebutlah yg membuat rasa memiliki kita terlalu tinggi. Semua yg dia lakukan, harus kita ketahui, harus kita atur bahkan melenceng sedikit saja sudah jadi sebuah masalah. Kalau boleh dikoreksi, hal itu salah. Ketakutan akan sakit hati itu, ialah pecundang. Sebenarnya, Cinta itu memang sudah dalam satu packaging yg lengkap, yakni bah...

Refleksi sebuah kabar, untuk rindu.

Image
Terkadang pernah terbesit kalimat “kabar merupakan kunci sebuah hubungan” menjadi sebuah kalimat yang senantiasa hadir melengkapi, jika tidak berkabar maka hubungan akan tak berjalan mulus. Begitu katanya. Bagaimana bisa? Iya, curiga, kesal, tidak prioritas, atau apalah itu menjadi hasutan di benak masing-masing jika tidak mengabari. Sebenarnya itu tidak salah, tidak juga sepenuhnya benar. Hal tersebut membuat saya berpikir, ada hal baru yang mulai saya sadari selain kabar.  Ya, kesibukan dan saling menghargai . Usia yang dapat dikategorikan sudah mulai dewasa, membuat kita tidak bisa seperti anak sekolahan yang setiap saat dapat memegang handphone kesayangan nya. Seluruh kegiatan, tugas, organisasi, bahkan pekerjaan, hal tersebutlah yang akan menyita waktu-waktu kita untuk berkabar. Bahkan untuk melakukan kegiatan sesehari di rumah pun terasa kurang, atau mungkin untuk tidur pun harus menjadwalkan waktu. Maka tuntutan kabar semakin hari akan berkurang, T...